Sungguh menggoncangkan dan menyayat, dan si juru lelang
Menganggap sungguh membuang tenaga saja
Untuk menyia-nyiakan waktu bagi biola tua,
Tetapi ia mengangkatnya dengan tersenyum:
"Berapa saya harus menawarkannya, saudara-saudara,"
teriaknya,
"Siapa yang akan mulai menawar?"
"Satu dolar, satu dolar" lalu, " Dua!" Hanya dua?
Dua dolar dan siapa akan menaikkannya menjadi tiga?
Tiga dolar, satu; tiga dolar, kedua;
Jadi untuk tiga" --- Tetapi tidak,
Dari jauh di belakang ruangan, seorang lelaki berambut kelabu
Maju ke depan dan mengambil penggesek;
Lalu, menyeka debu dari biola tua,
Dan mengencangkan beberapa dawai,
Ia mainkan sebuah irama murni dan manis
seperti malaikat bernyanyi.
Musik berhenti, dan si juru lelang,
Dengan suara serak dan berat,
Berkata, "Berapa harus saya tawarkan biola tua ini?"
Dan ia memegangnya dengan penggesek itu.
"Seribu dolar, dan siapa akan menaikkannya menjadi dua?"
Dua ribu, sekali, tiga ribu, dua kali.
Dan jadilah, katanya.
Orang-orang bersorak, tetapi ada diantaranya yang berteriak
Kami tak mengerti
apa yang mengubah harganya. Terdengar teriakan jawaban,
"Sentuhan tangan sang maestro."
Dan banyak orang yang hidupnya tanpa nada,
dan menggoncangkan dan menyayat bersama dosa,
Dilelang murah di tengah kerumunan kurang pikir,
Banyak kesamaan dengan biola tua.
Ia "ditawarkan" sekali, dan "ditawarkan" dua kali,
Ia "ditawarkan" dan hampir "laku".
Tetapi sang Maestro datang, dan kerumunan bodoh
Tak pernah benar-benar mengerti
Nilai suatu ruh, dan perubahan yang terjadi
Dengan sentuhan tangan sang maestro.
(From book A TOUCH OF GREATNESS by Frank Tibolt)
No comments:
Post a Comment